Agustinus, S.pd juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh Elemen Masyarakat yang hadir mengawal Sidang. Kehadiran mereka bukan sekadar simbol dukungan, tetapi juga bentuk perlawanan terhadap Ketidakadilan yang dirasakan bersama.
“Kami berterima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak Masyarakat Adat, Aparat Keamanan, hingga Pemerintah Daerah yang telah membantu jalannya proses ini,” tambahnya.
Sidang ini bukan hanya soal satu orang atau satu Kasus. Ini adalah cermin kondisi penegakan Hukum di Daerah. Ketika ratusan orang merasa perlu turun langsung mengawal Persidangan, itu pertanda ada Krisis Kepercayaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Masyarakat tidak lagi sekadar menunggu Keadilan mereka merasa harus mengawalnya sendiri.
Situasi ini menjadi Alarm keras bagi Aparat Penegak Hukum. Keputusan Hakim memang telah mengoreksi keadaan, tetapi pertanyaan yang lebih besar masih menggantung:
• Bagaimana proses penetapan Tersangka bisa terjadi jika pada akhirnya dinyatakan tidak sah?
• Siapa yang bertanggung jawab atas kerugian Moral, Sosial, bahkan Psikologis yang dialami para pihak?
• Apakah akan ada Evaluasi, atau semua akan berlalu tanpa Konsekuensi?
Putusan Praperadilan ini memang menghadirkan kelegaan. Namun Keadilan yang datang setelah proses panjang dan penuh tekanan tetap menyisakan luka.
Sintang hari ini mungkin telah melihat Keadilan ditegakkan. Tetapi besok, Publik akan menagih lebih: kepastian bahwa. Hukum tidak lagi dijadikan alat, melainkan benar-benar menjadi pelindung.
Karena jika tidak, gejolak seperti hari ini bukan tidak mungkin akan terulang dengan skala yang lebih besar, dan kemarahan yang lebih sulit dikendalikan.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya














