Zonacyber.ID, New Delhi – Konflik antara India dan Pakistan kembali mengancam stabilitas Asia Selatan.
Meski ketegangan mereda setelah bentrokan selama empat hari, banyak pihak khawatir bahwa ini bukanlah akhir dari ketegangan, melainkan awal dari konflik baru yang lebih sering terjadi.
Faktor utama pemicu kekhawatiran ini adalah penggunaan senjata nuklir dan menguatnya nasionalisme agama di kedua negara.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Konflik terbaru menunjukkan penggunaan teknologi militer terbaru, termasuk drone bersenjata yang beroperasi dalam jumlah besar di sepanjang perbatasan dan menembus wilayah dalam kedua negara.
Serangan ini bahkan mencapai pangkalan militer strategis, memaksa kedua negara untuk siaga penuh dan meningkatkan status militer mereka.
Hanya intervensi diplomatik internasional yang akhirnya menghentikan eskalasi, termasuk tekanan dari Amerika Serikat dan negara-negara Teluk.
Namun, tidak ada tanda-tanda bahwa hubungan diplomatik antara India dan Pakistan akan membaik.
Kedua negara masih saling curiga, terutama setelah India menyatakan tidak akan lagi mematuhi perjanjian sungai yang sangat penting bagi Pakistan.
Menurut analis militer India, Srinath Raghavan, sebagian besar konflik India-Pakistan di masa lalu dihentikan karena campur tangan internasional. Namun, kali ini posisinya berbeda.
“India tampaknya lebih ingin memastikan bahwa Pakistan tidak merasa bisa lolos begitu saja,” ujarnya.
Konflik kali ini dipicu oleh serangan teroris di wilayah Kashmir India pada 22 April 2025, yang menewaskan 26 warga sipil. India menuduh Pakistan mendukung serangan itu, sementara Pakistan membantah keras.
Pemerintahan Narendra Modi selama ini mengadopsi pendekatan garis keras terhadap Pakistan, terutama dengan memperkuat militer di wilayah Kashmir.
Setelah serangan itu, tekanan politik untuk membalas secara militer sangat besar.
Halaman : 1 2 Selanjutnya














