Warga itu juga menyindir Pemerintah yang dinilai sering datang saat ada kepentingan tertentu, namun lambat saat Masyarakat membutuhkan tindakan nyata.
“Kalau musim kampanye atau ada acara, jalan rusak pun bisa didatangi. Tapi kalau jembatan begini rusak parah, malah sepi perhatian. Kami cuma butuh akses aman, bukan janji,” tambahnya.
Cepat saat seremoni, lambat saat kondisi darurat. Kalau urusan Peresmian, Spanduk, dan Dokumentasi, biasanya Pejabat hadir paling depan apalagi pada saat musim kampanye, janjinya bahkan buat Masyarakat terbuai. Tapi saat komponen jembatan copot dan keselamatan Warga terancam, yang muncul justru alasan klasik: menunggu Proses, menunggu kajian, menunggu waktu yang tepat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jangan tunggu ada korban baru sibuk, karena kebiasaan paling buruk dalam Birokrasi adalah baru panik setelah ada musibah. Jika nanti ada Warga celaka karena jembatan ini, maka itu bukan sekadar kecelakaan, tetapi buah dari kelalaian yang dibiarkan.
Kalau memperbaiki jembatan saja terlalu sulit, lalu apa sebenarnya yang sedang dikerjakan? Jangan sampai Masyarakat melihat Pemerintah hanya rajin membuat agenda, tapi malas menyelesaikan masalah nyata.
Jembatan Mengkurai hari ini bukan cuma kayu yang rusak. Ia adalah monumen lambannya respon Pemerintah terhadap penderitaan Masyarakat.
Oleh sebab itu, Harus segera diperbaiki sebelum kepercayaan Publik runtuh lebih dulu daripada jembatannya.
ZC.ID [*]
Halaman : 1 2














