Usai laga, pelatih Madrid tak menutup-nutupi kekecewaannya. Ia menyindir performa timnya sendiri dengan nada getir:
> “Kami baru bermain ketika sudah tertinggal dua gol. Di level ini, itu bukan keberanian itu kelalaian. Gol dari Mbappé penting, tapi itu datang terlambat. Kami memberi Bayern terlalu banyak rasa percaya diri sejak awal.”
Pernyataan itu seperti pengakuan sekaligus sindiran internal bahwa masalah Madrid bukan sekadar taktik, tapi sikap.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Yang paling menggelitik adalah bagaimana Madrid, tim dengan reputasi “raja comeback”, justru kehabisan ide saat tertinggal di kandang sendiri. Serangan mereka mudah dibaca, transisi lambat, dan kreativitas terasa dipaksakan. Alih-alih menekan, mereka justru terlihat gugup sesuatu yang jarang, bahkan hampir tabu, untuk tim sekelas mereka di Bernabéu.
Kekalahan 1–2 ini bukan sekadar hasil buruk. Ini adalah peringatan keras: nama besar tidak mencetak gol, sejarah tidak menghalau serangan, dan aura juara tidak otomatis memenangkan pertandingan.
Leg kedua masih menunggu. Tapi jika performa ini yang dibawa ke Jerman, maka mimpi Madrid musim ini bisa berakhir bukan dengan drama heroik melainkan dengan kenyataan pahit yang sangat layak mereka terima.
ZC.ID [*]
Halaman : 1 2














