Yang lebih menyakitkan, menurut Warga, adalah ketimpangan antara kewajiban dan hak.
> “Kami bayar pajak, beli BBM juga kena pajak. Tapi jalan seperti ini, manfaatnya di mana? Kami merasa seperti dianaktirikan,” lanjutnya.
Ruas jalan ini sejatinya bukan sekadar akses lokal. Ia adalah jalur strategis yang menghubungkan Wilayah pedalaman hingga ke perbatasan Negara. Artinya, kerusakan yang dibiarkan berlarut-larut bukan hanya menghambat Mobilitas Warga, tapi juga berdampak pada distribusi barang, harga kebutuhan pokok, hingga potensi ekonomi kawasan perhuluan Ketungau.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Minimnya perhatian terhadap Infrastruktur Dasar ini memunculkan pertanyaan besar: apakah Wilayah perhuluan hanya diingat saat momentum Politik, lalu dilupakan dalam kebijakan Pembangunan?
Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan hanya roda ekonomi yang tersendat kepercayaan Publik terhadap Pemerintah pun ikut tergerus.
Pemerintah Provinsi Kalbar kini ditantang untuk tidak sekadar memberi janji, tetapi menunjukkan aksi nyata. Sebab bagi Warga Ketungau, jalan bukan sekadar Fasilitas, melainkan urat Nadi sebagai kebutuhan yang selama ini terasa seperti diabaikan.
ZC.ID // TIMRED [*]
Halaman : 1 2













