ZONACYBER.ID – Melawi | KALBAR, 31 Agustus 2025
Dunia pers kembali diteror. Seorang wartawan Jejak Digital News, Jhony Julianto, babak belur dikeroyok oknum pekerja PETI (Pertambangan Tanpa Izin) di Kabupaten Melawi, Sabtu (30/8). Jhony diserang saat menjalankan tugas jurnalistik, dan kini dirawat intensif di RS Citra Husada, Nanga Pinoh, akibat luka serius.
Peristiwa ini bukan sekadar tindak kriminal. Kekerasan tersebut adalah bentuk pembungkaman kebebasan pers sekaligus bukti arogansi kelompok penambang ilegal yang terang-terangan menantang hukum.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
PETI selama ini dikenal merusak lingkungan, menghisap kekayaan negara, serta mengancam keselamatan masyarakat. Kini, keberadaan mereka semakin berbahaya setelah berani menyerang jurnalis yang berupaya mengungkap fakta di lapangan.
Ketua Aliansi Wartawan Indonesia (AWI) Kota Pontianak, Budi Gautama, mengecam keras pengeroyokan ini.
“Kekerasan terhadap wartawan adalah serangan langsung terhadap demokrasi dan hak publik untuk tahu. Pers adalah pilar keempat demokrasi, dan tugas wartawan dilindungi undang-undang. Aparat wajib menangkap para pelaku dan membongkar jaringan PETI. Negara tidak boleh kalah oleh penjahat lingkungan dan musuh kebebasan pers,” tegasnya.
Budi menegaskan, intimidasi, ancaman, dan penganiayaan terhadap wartawan adalah pelanggaran Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Ia mendesak Polres Melawi untuk:
1. Menangkap dan mengadili pelaku pengeroyokan dengan hukuman maksimal sesuai KUHP.
2. Mengusut tuntas jaringan PETI di Melawi yang selama ini bebas beroperasi.
3. Memberikan perlindungan hukum kepada wartawan sebagaimana dijamin UU Pers.
AWI juga meminta Jejak Digital News segera menempuh langkah hukum resmi melalui Dewan Pers agar kasus ini tidak terkubur begitu saja.
“Setiap pelaku harus dihukum setimpal. Jika dibiarkan, kekerasan terhadap wartawan akan menjadi preseden berbahaya. Pers bekerja untuk rakyat, maka negara wajib melindunginya,” tegas Budi.
ZC.ID // TIMRED [*]














