Zonacyber.id – Moskwa | RUSIA, (20/06/2025).
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah terus meningkat seiring eskalasi konflik bersenjata antara Iran dan Israel yang telah memasuki hari keenam. Dalam situasi genting ini, Rusia melalui Wakil Menteri Luar Negeri, Sergei Ryabkov, mengeluarkan peringatan tegas terhadap Amerika Serikat (AS) terkait rencana bantuan militer langsung kepada Israel.
Dalam pernyataan yang dikutip kantor berita Rusia Interfax pada Rabu, 18 Juni 2025, Ryabkov menilai bahwa setiap bentuk keterlibatan militer langsung dari pihak AS, terutama dalam bentuk dukungan persenjataan atau keterlibatan militer aktif, hanya akan memperburuk situasi dan dapat mengguncang stabilitas kawasan secara drastis.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Itu akan menjadi langkah yang sangat berisiko dan hanya akan memperdalam ketidakstabilan regional,” ujar Ryabkov kepada wartawan di Moskow.
Ryabkov juga menyoroti bahwa hanya dengan pendekatan diplomatik-lah ketegangan dapat diredam. Ia menyebut gagasan pemberian bantuan militer kepada Israel sebagai “spekulatif dan tidak bertanggung jawab” dalam konteks konflik yang semakin melebar.
Sikap tegas Rusia ini disampaikan setelah muncul laporan bahwa pemerintahan Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan berbagai opsi strategis, termasuk kemungkinan mendukung Israel dalam melancarkan serangan langsung ke fasilitas nuklir Iran. Laporan ini pertama kali diungkap oleh sejumlah sumber yang terlibat dalam diskusi internal di Washington, sebagaimana dikutip media AS.
Langkah-langkah yang tengah dipertimbangkan Gedung Putih antara lain berupa penyediaan dukungan intelijen dan logistik, hingga keterlibatan dalam operasi militer terbatas bersama Israel. Kendati demikian, belum ada keputusan resmi yang diumumkan oleh otoritas AS.
Rusia: Situasi Iran-Israel Kini Kritis
Sementara itu, Kepala Dinas Intelijen Luar Negeri Rusia (SVR), Sergey Naryshkin, dalam pernyataan terpisah menegaskan bahwa konflik antara Iran dan Israel telah mencapai titik kritis. Ia mengungkapkan kekhawatiran bahwa jika tidak segera ditangani melalui jalur diplomasi internasional, konflik ini berpotensi berkembang menjadi perang terbuka skala besar yang tidak hanya melibatkan negara-negara regional, tetapi juga kekuatan global.
“Situasinya sekarang berada di ambang krisis besar. Risiko eskalasi yang tak terkendali sangat nyata,” ujar Naryshkin kepada media Rusia.
Naryshkin juga menuding bahwa kehadiran dan campur tangan kekuatan eksternal, termasuk AS, justru akan memperkeruh keadaan dan membuka peluang konfrontasi militer yang lebih luas, termasuk potensi keterlibatan blok-blok kekuatan global dalam konflik yang seharusnya bisa dibatasi secara regional.
Latar Belakang Konflik
Ketegangan memuncak setelah terjadi serangan udara saling balas antara Iran dan Israel sejak pekan lalu, menyusul dugaan serangan terhadap fasilitas diplomatik Iran di Suriah yang diklaim dilakukan oleh Israel. Sebagai balasan, Iran meluncurkan ratusan rudal ke wilayah Israel, sebagian di antaranya berhasil dicegat sistem pertahanan udara Iron Dome, namun sejumlah rudal dilaporkan mengenai target strategis, termasuk fasilitas medis dan instalasi militer.
Situasi ini semakin diperumit oleh keterlibatan kelompok-kelompok milisi pro-Iran di Lebanon dan Suriah, yang ikut menyerang posisi Israel di wilayah perbatasan. Sementara Israel meningkatkan operasi militernya di Jalur Gaza dan wilayah Golan.
Seruan Rusia: Kembali ke Meja Perundingan
Rusia secara konsisten menyerukan agar semua pihak menahan diri dan mendorong dialog melalui saluran diplomatik multilateral, termasuk melalui Dewan Keamanan PBB dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Moskow juga mendesak AS dan negara-negara Barat untuk tidak memperkeruh situasi dengan mengirimkan bantuan senjata atau dukungan militer yang hanya akan memicu perlombaan senjata di kawasan yang sudah sangat rentan.
Sejumlah analis menilai bahwa pernyataan Rusia merupakan bagian dari upaya untuk memperkuat perannya sebagai mediator utama dalam konflik Timur Tengah, serta mempertahankan pengaruh geopolitik di kawasan yang strategis secara ekonomi dan militer itu.
Editor : zc.id // RED














