โSituasinya sekarang berada di ambang krisis besar. Risiko eskalasi yang tak terkendali sangat nyata,โ ujar Naryshkin kepada media Rusia.
Naryshkin juga menuding bahwa kehadiran dan campur tangan kekuatan eksternal, termasuk AS, justru akan memperkeruh keadaan dan membuka peluang konfrontasi militer yang lebih luas, termasuk potensi keterlibatan blok-blok kekuatan global dalam konflik yang seharusnya bisa dibatasi secara regional.
Latar Belakang Konflik
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketegangan memuncak setelah terjadi serangan udara saling balas antara Iran dan Israel sejak pekan lalu, menyusul dugaan serangan terhadap fasilitas diplomatik Iran di Suriah yang diklaim dilakukan oleh Israel. Sebagai balasan, Iran meluncurkan ratusan rudal ke wilayah Israel, sebagian di antaranya berhasil dicegat sistem pertahanan udara Iron Dome, namun sejumlah rudal dilaporkan mengenai target strategis, termasuk fasilitas medis dan instalasi militer.
Situasi ini semakin diperumit oleh keterlibatan kelompok-kelompok milisi pro-Iran di Lebanon dan Suriah, yang ikut menyerang posisi Israel di wilayah perbatasan. Sementara Israel meningkatkan operasi militernya di Jalur Gaza dan wilayah Golan.
Seruan Rusia: Kembali ke Meja Perundingan
Rusia secara konsisten menyerukan agar semua pihak menahan diri dan mendorong dialog melalui saluran diplomatik multilateral, termasuk melalui Dewan Keamanan PBB dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Moskow juga mendesak AS dan negara-negara Barat untuk tidak memperkeruh situasi dengan mengirimkan bantuan senjata atau dukungan militer yang hanya akan memicu perlombaan senjata di kawasan yang sudah sangat rentan.
Sejumlah analis menilai bahwa pernyataan Rusia merupakan bagian dari upaya untuk memperkuat perannya sebagai mediator utama dalam konflik Timur Tengah, serta mempertahankan pengaruh geopolitik di kawasan yang strategis secara ekonomi dan militer itu.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya














